
Berita Tanah Karo – inewsrakyat.com
– Herliyani merupakan peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang telah terdaftar sejak tahun 2013. Awalnya ia tak yakin untuk mendaftarkan diri dan keluarganya menjadi peserta. Selain karena belum membutuhkan akses layanan kesehatan, ia juga meragukan jika berobat menggunakan JKN akan diperlakukan berbeda dengan pasien yang berobat dengan biaya pribadi.
Seiring berjalannya waktu, wanita yang akrab disapa Liyani tersebut mengungkapkan ia sering melihat sanak saudara dan tetangganya yang tiba-tiba mengalami sakit, sehingga harus segera mendapatkan pertolongan medis namun terkendala tak punya biaya terlebih juga tak punya perlindungan jaminan kesehatan.
“Kemarin ada tetangga yang tiba-tiba anaknya sakit dan diagnosis demam berdarah. Dibawa ke rumah sakit kemudian harus rawat inap beberapa hari. Kebetulan dia tak terdaftar JKN, jadi harus mengeluarkan biaya hampir lima juta rupiah untuk satu episode perawatan. Akhirnya kami dari pengajian mencoba mengumpulkan dana supaya dia sedikit terbantu dan teringankan biayanya. Karena kan kalau daftar jadi peserta mandiri waktu itu 14 hari baru aktif,” ujar Liyani, pada Kamis silam (12/06/2025).
Tidak hanya itu, Herliyani juga mendapati beberapa saudaranya yang sakit namun sudah terdaftar sebagai peserta JKN. Beberapa kali ia menjenguk saudaranya di rumah sakit banyak yang menceritakan bahwa dengan JKN tak perlu memikirkan biaya berobat. Semuanya gratis asalkan sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku.
“Ya akhirnya berdasarkan pengalaman-pengalaman yang saya peroleh, baru saya menyadari bahwa menjadi peserta JKN ini sifatnya kan perlindungan diri. Kita tidak tahu kapan akan sakit. Yang jelas tidak ada dari kita yang ingin sakit. Seandainya tiba-tiba saya yang mengalami kejadian seperti tetangga atau saudara-saudara mungkin saya juga tidak akan mampu untuk mengeluarkan biaya yang banyak apalagi kami hanya menggantungkan hidup dengan berjualan jajanan bakso bakar. Kadang banyak pembeli, kadang sedikit,” jelas Liyani.
Liyani lalu memutuskan secepatnya untuk mendaftarkan diri menjadi peserta JKN. Ia mendaftar melalui Aplikasi Pandawa pada segmen peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) kelas tiga. Menurutnya pendaftaran melalui Pandawa lebih simple dan fleksibel. Tidak perlu harus ke kantor cukup menggunakan HP sambil duduk dirumah.
Liyani yang berdomisili di Desa Rumah Berastagi, Kabupaten Karo mengatakan anaknya Raisya yang banyak tahu tentang penggunaan-penggunaan aplikasi yang disediakan oleh BPJS Kesehatan untuk membantu kemudahan penggunaan akses layanan JKN.
“Saya sangat lega sudah terdaftar. Setiap bulan akan saya sisihkan uang untuk membayarkan iurannya. Kalaupun tidak sakit anggap saja sedekah membantu masyarakat yang sedang sakit. Bagi masyarakat yang belum terdaftar ayolah segera mendaftar. Insyaallah JKN sangat baik untuk perlindungan kita,” tutup Liyani.
Pada kesempatan yang sama Raisya Zaskia, anak Liyani mengatakan ia sudah beberapa kali berobat menggunakan JKN karena sering demam dibarengi mimisan. Ia berobat ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang dipilih saat mendaftar.
“Berobat pakai JKN sangat mudah cukup datang ke FKTP, kalau dalam keadaan emergency bisa langsung ke IGD rumah sakit. Sebelum berobat bisa ambil antrean online dari Aplikasi Mobile JKN. Selama pakai JKN ibu tak perlu keluarkan biaya untuk berobat kalau saya demam. Menurut saya semua sistem yang disediakan BPJS Kesehatan sudah sangat kekinian terutama bagi saya yang masih termasuk Gen Z. Semua sudah via aplikasi. Mulai dari pendaftaran awal bisa dari WhatsApp lalu bayar iuran bisa dari banyak channel pembayaran seperti bank dan e-commerce. Saat ini kami mau mencoba daftar autodebit supaya bisa dipotong iurannya secara otomatis. Kadang bisa lupa kelewatan bayar iuran lewat tanggal sepuluh,” tutur Raisya.
*Haris/INR






https://shorturl.fm/rUFWm