Dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut.



Roma 5:12 Apabila kita memperhatikan keadaan awal manusia dalam status tidak berdosa, kita patut meratapi kejatuhan Adam yang begitu mengerikan. Ini seperti bangunan megah yang ambruk menjadi berkeping-keping. Mungkinkah kita tidak menangis tatkala melihat rumah kita terbakar dan harta milik kita lenyap ditelan api? Tetapi kejatuhan Adam sangat jauh berbeda dengan semua penyebab kesedihan kasat mata: manusia jatuh bagaikan bintang jatuh dari langit. Oh, seandainya kita dapat kembali ke natur tanpa noda atau hati tanpa pencemaran! Manusia yang telah diasuh secara terhormat sekarang merangkul timbunan kotoran. Dimanakah kemuliaan mula-mula kita? Tidak pernah ada kegelapan dalam pemikiran, tidak ada pemberontakan di dalam kehendak, dan tidak ada gangguan dalam afeksi. Tetapi, ah!! Kota yang setia telah menjadi sarang penyamun dan tempat pelacuran! Kebenaran dan keadilan pernah tinggal di sana, tetapi sekarang dihuni para pembunuh. Perak kita telah berubah menjadi karat. Hati yang pernah menjadi bait Allah sekarang berubah menjadi sarang penyamun. Nama kita menjadi Ikabot, karena kemuliaan Allah sudah meninggalkan kita (1 Samuel 4:21). Oh, manusia, dulu engkau berbahagia! Tidak ada rasa sakit, penyakit, atau kematian yang menjangkiti kita, sampai buah kepahitan itu dipetik dari pohon terlarang. Waktu itu sorga menyinari, bumi berseri-seri, ditemani para malaikat dan objek kedengkian para Iblis. Tetapi mahkota itu sudah terlepas dari kepala kita, dan terkutuklah kita karena dosa! Air bah menenggelamkan bumi; api melahap Sodom; katak-katak menjadi algojo Firaun; dan cacing- cacing memakan habis Herodes. Ah, kita telah sedemikian terjatuh! Betapa terpuruknya kita ke dalam palung pusaran petaka! Matahari telah terbenam bagi kita, dan kematian telah menyusup melalui jendela kita. Demikianlah kita berbaring dalam debu, dan membiarkan kehinaan dan kekacauan meliputi kita. Meskipun demikian ada pengharapan bagi kita. Oh, orang berdosa, pandanglah kepada Yesus Kristus, Adam kedua. Tinggalkanlah Adam pertama, dan hampirilah Sang Pengantara dan Penjamin kovenan baru yang lebih baik. Katakanlah kepada Kristus dari hati Anda: "Jadilah Penguasa kami, dan kiranya pelanggaran kami ini ditanggulangi oleh tangan-Mu".

Penulis: Rosmita Ginting

Penulis


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *