Berita Tanah Karo – Inewsrakyat.com
Kehadiran Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah memberi pengalaman yang sangat berharga bagi seluruh masyarakat di penjuru negeri. BPJS Kesehatan sebagai penyelenggara Program JKN bersama seluruh pemangku kepentingan berkomitmen meningkat mulu layanan kepada masyarakat demi kemudahan akses kesehatan.
Bentuk komitmen itu dirasakan oleh Ida Roselli Br. Munthe . Saat di temui Tim media pada Rabu (04/02/2026) silam. Ibu tiga anak ini menceritakan pengalamannya saat harus rutin cuci darah sejak tahun 2020.
“Bulan ini masih minggu pertama jadwal saya rutin untuk cuci darah, biasanya jadwal saya rutin cuci darah di hari Rabu dan Jumat, ini karena minggu pertama di bulan Februari makanya ini hari pertama saya cuci darah,” kata Ida.
Ida merupakan Peserta segmen mandiri kelas III (tiga). Ida mengaku sangat terbantu dan tidak terbebani ketika harus rutin cuci darah setiap minggunya karena seluruh biaya pengobatan nya di tanggung oleh Program JKN.
“Untuk sekali cuci darah saja mungkin biaya nya sudah jutaan, sementara saya sudah cuci darah mulai dari tahun 2020, berarti sudah sekitar enam tahun lebih kurang saya menjalani proses rutin cuci darah ini, belum lagi kalau tiba tiba saya harus opname dirumah sakit, biaya nya pasti besar. Jadi dengan hanya membayar iuran sebesar 35 ribu perbulan per orang. Saya rasa itu tidak sebanding dengan biaya yang sudah di keluarkan BPJS Kesehatan untuk biaya rutin yang di keluarkan untuk cuci darah saya,” ungkap Ida.
Di kesempatan yang sama Ida mengatakan bahwa dirinya telah merasakan sendiri manfaat Program JKN. Saat ini dia dalam kondisi sedang menjalani proses cuci darah di Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi, Ida turut menceritakan awal dirinya bisa sampai harus rutin cuci darah.
“Awalnya saya terkena penyakit Hipertensi, selama proses pengobatan saya rutin mengkonsumsi obat, lambat laun karena proses konsumsi obat yang rutin, ginjal saya mengalami pengurangan fungsi. Akhirnya saya didiagnosis mengalami gagal ginjal, saya sempat khawatir bukan hanya karena tentang kondisi kesehatan saya saja, tetapi juga biaya pengobatan yang harus saya tanggung selama proses cuci darah dan pengobatan lainnya, ujar Ida.
Meski berobat memakai layanan JKN, Ida tak sekalipun mendapatkan pelayanan yang tidak baik ketika berobat rawat inap maupun selama dirinya menjalani cuci darah selama 6 (enam) tahun belakangan.
“Pertama sekali cuci darah saat itu masih di Medan, di Rumah Sakit Elisabeth, sekitar 2,5 tahun juga saya cuci darah disana. Meski saya bukan warga Medan, tapi saya tidak merasakan adanya perbedaan layanan mandiri maupun menggunakan Program JKN, mulai dari administrasi yang tidak ribet, hanya menunjukkan KTP saja saya sudah bisa untuk cuci darah. Sampai akhirnya di Kabupaten Karo sudah ada fasilitas layanan untuk Hemodialisa sehingga tidak jauh lagi dari rumah, semua proses mudah dan layanan juga koperatif,” jelas Ida ini.
*Haris/INR







