Universitas Quality Pengenalan Keterampilan Untuk Siswa SD Kwala Bekala Medan


Inewsrakyat.com – Medan

– Universitas Quality Medan Sumatera Utara lakukan pengenalan Cerita Rakyat untuk meningkatkan keterampilan bercerita pada Siswa atau Pelajar SD Negeri 060937 Kwala Bekala, Medan Sumatera Utara oleh Dosen Quality yakni Karmila Br Karo, S.Sos.,M.Si, Restio Sidebang, S.Pd., M.Pd & Bijak Ginting, S.Sn., M.Hum, dan bersama Mahasiswanya Ripaldi Karo-Karo, dari FKIP, Universitas Quality.

Pelajar atau seorang Siswa itu dapat mengungkapkan hal yang ingin diceritakan dan menjadi perhatian dalam aktivitas bercerita. Dalam pelaksanaannya, kegiatan bercerita membutuhkan bahan atau ide cerita, penguasaan cerita, ketenangan dan keberanian. Dan bercerita merupakan salah satu kebiasaan masyarakat sejak dahulu sampai sekarang. Hampir setiap Siswa yang telah menikmati suatu cerita akan selalu siap untuk menceritakannya kembali, terutama jika cerita tersebut mengesankan bagi Siswa. Satu keterampilan berbicara yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada orang lain.

Dikatakan demikian karena bercerita termasuk dalam situasi informatif yang ingin membuat pengertian-pengertian atau makna -makna menjadi jelas. Dengan bercerita, seseorang dapat menyampaikan berbagai macam cerita, ungkapan berbagai perasaan sesuai dengan apa yang dialami, dirasakan, dilihat, dibaca dan ungkapan kemauan dan keinginan membagikan pengalaman yang diperolehnya.

Cerita dapat digunakan oleh orangtua dan guru sebagai sarana mendidik dan membentuk kepribadian anak melalui pendekatan transmisi budaya atau cultural transmission approach. Sedangkan bercerita menurut Musfiroh (2009:29) adalah salah satu upaya untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti atau nilai-nilai karakter.

Dalam konteks tersebut, diperlukan sesuatu yang dapat membantu dalam menunjang proses pembelajaran untuk menarik minat belajar siswa guna keberhasilan dalam pembelajaran bercerita adalah dengan pemilihan model pembelajaran ataupun media pembelajran yang tepat atau sesuai dengan karakteristik siswa, menarik untuk menginovasi media pembelajaran sesuai abad 21 ini. 

Sementara, menurut Mudlofir dan Rusydiyah (2019:124) menyatakan media pembelajaran merupakan perantara pesan dari pengirim kepenerima berbentuk cetak maupun non cetak sehingga penerima memiliki motivasi belajar untuk memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Teknologi dapat membantu pendidik dalam inovasi, misalnya dalam pembuatan media pembelajaran.

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi suatu yang berpengaruh terhadap keberlangsungan tatanan kehidupan manusia. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi didukung karena adanya revolusi yang sedang dihadapi oleh dunia yaitu revolusi industry 4.0 (Yahya, 2018).

Revolusi industri 4.0 terjadi pada abad ke 21. Abad 21 ditandai dengan berubahnya aktivitas manusia yang awalnya manual menjadi serba digital, informasi dan komunikasi dapat diakses dengan mudah dari mana saja dan kapan saja (Kemendikbud, 2013) Era ini juga telah mengubah berbagai aktivitas manusia di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, politik dan tanpa terkecuali di bidang pendidikannya. Semua pihak yang terlibat dalam bidang pendidikan dituntut harus mampu mengimbangi dan mengikuti kemajuan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.

Sesuai penjelasan dari Dosen diatas, bahwa Pembelajaran berbasis teknologi harus dioptimalkan sebagai tuntutan dalam pembelajaran abad 21. Pembelajaran abad 21 atau dalam istilah asing dikenal dengan sebutan partnership for 21st century learning menuntut peserta didik memiliki keterampilan, pengetahuan dan kemampuan di bidang teknologi, media dan informasi, keterampilan belajar dan inovasi, serta keterampilan hidup dan kejuruan (Kuncahyono, 2020:156). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah menyusun tiga konsep pembelajaran abad 21 sebagai upaya memenuhi tuntutan abad 21 dengan mengembangkan kurikulum (Kemendikbud, 2013).

Bercerita merupakan salah satu daris ekian banyak cara teknik untuk mengajarkan keterampilan berbicara pada anak. Melalui bercerita dapat melatih keberanian anak di depan kelas dan di depan umum. Dengan bercerita anak terlatih untuk menyampaikan gagasan, pendapat atau perasaan secara runtut berdasarkan kenyataan terhadap apa yang dilihat dan dirasakan dari gambar yang dilihatnya.
Ketermpilan bercerita dapat dikembangkan pada materi cerita rakyat. Cerita rakyat adalah sebuah kisah atau cerita pada zaman dahulu, yang berkembang secara luas dari mulut ke mulut, tanpa tahu siapa pengarangnya,” terangnya.

Cerita rakyat juga termasuk jenis cerita fiktif sehingga tidak dapat dibuktikan kebenarannya, namun ada beberapa diantaranya membawa unsur lokal suatu daerah sehingga sangat dipercayai oleh masyarakat. Tak jarang juga, cerita rakyat yang ada mengisahkan suatu tempat hingga asal usul tokoh dan beberapa dari cerita rakyat tersebut masih dapat dibuktikan keberadaannya hingga saat ini.

Banyak cerita rakyat pendek yang dapat ditemui di beberapa daerah Indonesia, cerita ini menjadi salah satu daya tarik masyarakat untuk mengenalkan kebudayaan dan sejarah dari tempat tersebut berada. Dan hingga saat ini, cerita-cerita rakyat di daerah tersebut masih dilestarikan. Pengenalan cerita rakyat dapat memberikan pengaruh signifikan pada keterampilan bercerita siswa kelas VI SDN 060937 Kwala Bekala.

Adapun analisis para Dosen ini, bahwa saat situasi pada masa pandemic Covid-19 saat ini, anak kehilangan banyak sekali waktu untuk berinteraksi dan bermain dengan teman maupun guru di sekolah, sehingga dibutuhkan kegiatan yang bisa tetap mengasah kreatifitas mereka. Hal ini lah yang menjadi alasan untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dengan melibatkan anak.

Anak adalah amanah sekaligus karunia dari Tuhan YME yang senantiasa harus dijaga, anak merupakan generasi penerus cita-cita bangsa. Ditangan para anak-anak tersebut kelak bangsa ini akan di lanjutkan. Begitu pentingnya peran anak bangsa ini, maka pertumbuhan dan perkembangan anak perlu diperhatikan dan dijaga demi kebaikan bangsa ini dimasa mendatang.

“Berdasarkan pemaparan di atas yang menjadi tantangan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah bagaimana cara meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa dalam bercerita dengan mengenalkan berbagai jenis cerita rakyat, sehingga anak tertarik untuk membaca dan menceritakannya kembali baik kepada guru, teman, juga orang tuanya,” jelasnya.

Jadi solusi permasalahan
keterampilan bercerita merupakan kemampuan untuk menceritakan kembali perbuatan atau suatu kejadian secara lisan dengan tujuan berbagai pengalaman atau pengetahuan kepada orang lain. Bercerita sendiri merupakan salah satu dari keterampilan berbicara. Kegiatan bercerita membentuk seseorang dapat menyampaikan berbagai cerita dan mengungkapkan perasaan yang dialami. Siswa dapat mengungkapkan hal yang  ingin ceritakan dan perhatian dalam aktivitas bercerita. Dalam pelaksanaannya, kegiatan bercerita membutuhkan bahan atau ide cerita, penguasaan cerita, ketenangan dan keberanian.

Dalam konteks tersebut, diperlukan sesuatu yang dapat membantu dalam menunjang proses pembelajaran untuk menarik minat belajar siswa guna keberhasilan dalam pembelajaran bercerita adalah dengan pemilihan model pembelajaran ataupun media pembelajran yang tepat atau sesuai dengan karakteristik siswa, menarik untuk menginovasi media pembelajaran sesuai abad 21 ini. Dengan pesatnya perkembangan meningkatkan keterampilan bercerita siswa dengan terampil.  

Diketahui bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini pendampingannya akan dilaksanakan selama 2 (dua) minggu pada bulan Januari 2024 dengan beberapa pertemuan. Lokasi dan sasaran pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini dipusatkan di SDN 060937 Kwala Bekala, Medan Sumatera Utara untuk Siswa kelas VI di sekolah tersebut dengan metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah berupa kegiatan pelatihan yang ditunjang dengan memberi contoh dan praktek bercerita langsung dengan siswa.

Untuk melihat keterampilan bercerita pada siswa dengan mengenalkan banyak jenis cerita rakyat yang ditargetkan pada kegiatan pengabdian ini adalah publikasi kegiatan pada media cetak local maupun Nasional.

Kegiatan pengabdian dimulai dengan perkenalan dosen dan mahasiswa yang akan melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan para siswa di kelas. Selanjutnya dosen menjelaskan maksud dan tujuan serta kegiatan pembelajaran apa yang akan dilaksanakan pada hari tersebut. Dosen dan mahasiswa memulai dengan melakukan eksplorasi pemahaman siswa tentang cerita rakyat, khususnya cerita rakyat dari Sumatera Utara.

Dosen mengajukan pertanyaan seputar tentang apa yang dimaksud cerita rakyat, apa saja cerita rakyat yang mereka ketahui atau pernah dengar, dari siapa mereka pernah mendengar cerita rakyat, dan pertanyaan lainnya. Siswa pun antusias menjawab setiap pertanyaan tentang cerita rakyat. Rangkaian jawaban siswa kemudian disimpulkan dosen menjadi sebuah definisi yang menunjukan pengertian cerita rakyat.

Nah, dari kegiatan pengabdian masyarakat pada SD ini menunjukkan cerita rakyat yang dijadikan sebagai alternatif bahan ajar dan diimplementasikan dalam proses pembelajaran, yaitu mendengarkan cerita rakyat pada peserta didik. Setelah melakukan pemanfaatan cerita rakyat dalam proses pembelajaran keterapilan berbahasa, dosen dan mahasiswa melakukan evaluasi pembelajaran untuk melihat pemahaman siswa atas proses pembelajaran yang telah diikuti.

Dari hasil evaluasi, pemanfaatan cerita rakyat sebagai bahan ajar yang bersumber pada hasil kajian ini cukup bermakna dan dapat dipahami oleh siswa. Selain itu, dari proses pembelajaran yang telah dilakukan, terlihat antusias siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Hal itu terlihat dari diskusi kelompok dan diskusi kelas yang siswa laksanakan,” ujar para Dosen  Universitas Quality itu dengan kompak.

*Haris/INR

Penulis


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *